Minggu, 17 April 2016

Komunikasi Terapeutik Dalam Pemenuhan Mobilitas Pada Pasien Stroke



A.    Fase Prainteraksi
Pada   fase   ini   perawat   harus   mempersiapkan   dirinya,   baik   itu persiapan fisik maupun mental. Lalu di tahap ini perawat mengumpulkan data tentang klien meliputi identitas klien, Riwayat Keperawatan/kesehatan yang   di   dalamnya   beerisikan   tentang   keluhan   utama,   riwayat kesehatan/keperawatan sekarang, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat kesehatan lingkungan dan riwayat kesehatan psikososial. Selain itu juga di kumpulkan juga data mengenai pemeriksaan fisik seperti keadaan umum, pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan kulit, rambut,   kelenjar   getah   bening,   pemeriksaan   keoala   dan   leher, pemeriksaan   dada,   pemeriksaan   abdomen,   serta   pemeriksaan   anggota gerak dan neurologis, sebagai dasar dalam membuat rencana interaksi. Dan pada tahap ini pula perawat membuat perencanaan tindakan yang akan di implementasikan saat bertemu dengan klien.
B.     Fase Interaksi
1.         Tahap Orientasi
Tahap   ini   dimulai   pada   saat   bertemu   dengan   klien.   Pada   saat pertama kali bertemu dengan klien tahap ini di gunakan perawat untuk berkenalan dengan klien yang diawali dengan salam.
Perawat : “Selamat pagi ibu”
Klien : “Selamat pagi suster”
Perawat : “apakah betul anda ibu Gina Puspitasari?”
Klien : “ia betul sus”
Perawat :   “apakah   alamat   ibu   di   Perumahan   Riung   Bandung, jalan Saluyu B7 no.19?”
Klien : “ia sus betul sekali”
Perawat :  “sebelumnya,   perkenalkan  saya   perawat   Vera,  saya bertugas dari Pukul 07.00 – 12.00 WIB.”
Selanjutnya   perawat   menggali   perasaan   dan   pikiran   serta mengidentifikasi   masalah   klien.   Untuk   mendorong   klien mengekspresikan   perasaannya   maka   teknik   yang   digunakan   adalah pertanyaan terbuka.
Perawat : “ibu, bagaimana perasaan ibu hari ini?”
Klien : “saya sudah merasa lebih baik sekarang, tetapi tangan dan kaki saya masih terasa kaku sus.”
Perawat : “bagaimana tidurnya semalam bu? Apakah nyenyak?”
Klien :   “ya   lumayan   nyenyak   sus,   hanya   sesekali   saja Terbangun Saat malam, dan itupun lalu tidur lagi.”
Pada  tahap  ini  juga perawat  merumuskan kontrak  bersama  klien. Kontrak   dengan   klien   penting   untuk   menjaga   kelangsungan   sebuah interaksi. Kontrak yang harus disetujui dengan klien yaitu tempat, waktu dan topic pertemuan. Lalu perawat merumuskan tujuan dengan klien.
Perawat :   “baiklah   ibu,   hari   ini   kita   akan   melakukan   latihan pergerakan pada persendian ibu, kita akan melakukan pelatihannya di ruangan ini saja, pelatihan ini kurang lebih   berlangsung   15   hingga   20   menit,   pelatihan   ini bertujuan   untuk   melatih   persendian   ibu   supaya   tidak kaku. Apakah ibu bersedia?”
Klien : “ia sus, saya bersedia.”
Perawat : “baiklah jika ibu bersedia di mohon kerjasamanya ya bu!”
Klien : “ia sus.”
2.         Tahap Kerja
Pada tahap ini, perawat  mulai melaksanakan tindakan  yang  telah direncanakan dan telah di sepakayi oleh klien.
Perawat :   “baiklah   ibu   hari   ini   kita   hanya   akan   melakukan pelatihan   pergerakan   pada   persendian   pergelangan tangan   dan   jari-jari   tangan   saja.   Nanti   ibu   ikuti gerakan-gerakan saya,  dan ibu beri  tahu pada  saya jika   ibu   merasa   kesulitan   dalam   melakukan pergerakannya.
Klien : “ia baik sus.”
Perawat : “apakah ibu sudah siap?”
Klien : “ia sus, saya sudah siap.”
Perawat :   “sekarang   kita   lakukan   pelatihan   pergerakan   pada pergelangan tanga ibu terlebih dahulu. Ikuti gerakan saya   ya   bu,   gerakan   pertama   yaitu   (fleksi)   gerakan telapak   tangan   ibu   ke   sisi   bagian   dalam   lengan bawah.   Seperti   ini   (perawat   memberikan   contoh pergerakan kepada klien).
Klien : “seperti ini sus?”
Perawat : “ia betul sekali ibu. Bagaimana ibu? Terasa sakit atau tidak?”
Klien : “masih terasa kaku sus, tetapi sudah agak lumayan bisa di gerakan.”
Perawat : “ia bagus ibu,  ayo terus  saja,  tetapi  jangan  terlalu dipaksakan jika ibu merasa sakit.”
Klien : “ia baik sus.”
Perawat : “sekarang kita melakukan gerakan yang ke dua yaitu (ekstensi)   gerakan   jari-jari,   tangan   dan   lengan   ibu berada   di   arah   yang   sama.   Seperti   ini   (perawat memberikan contoh pergerakan kepada klien).
Klien : “seperti ini?
Perawat : “   ia   ibu,   benar   seperti  itu. bagaimana ibu?  Terasa sakit atau tidak?”
Klien : “tidak sama sekali sus.”
Perawat : “kita langsung saja ke gerakan yang ke tiga ya bu!”
Klien : “ia baiklah sus.
Perawat :  “gerakan   ke  tiga  yaitu   (hiperekstensi)   lengkungkan tangan ibu ke arah belakang sejauh mungkin. Seperti ini  (perawat   memberikan   contoh  pergerakan  kepada klien).”
Klien : “seperti ini sus?”
Perawat : “ia ibu betul sekali, lengkungkan tangannya sejauh mungkin,   tetapi   jika   sudah   terasa   sakit,   jangan   ibu paksakan. Semampu tangan ibu saja.”
Klien : “ia baiklah sus, saya hanya mampu sampai ini sus.”
Perawat :   “ia   tidak   apa-apa   ibu,   ini   sudah   bagus   sekali. Sekarang kita ke gerakan yang ke empat ya bu”
Klien : “ia sus.”
Perawat :   “gerakan   yang   ke   empat   yaitu   (abduksi)   tekukkan pergelangan   tangan   ibu  ke   arah  ibu  jari.   Seperti ini (perawat   memberikan   contoh   pergerakan   kepada klien). “
Klien : “begini ya sus?”
Perawat :   “ia   betul   ibu.  Ayo   lakikan   sekali   lagi   bu!   Baiklah, sekarang kita lakukan gerakan ke empat ini gerakan terakhir   untuk   pelatihan   pergerakan   pada   tangan. Gerakannya   yaitu   (adduksi)   tekukkan   pergelangan tangan ibu miring ke arah lima jari. Seperti ini (perawat memberikan contoh pergerakan kepada klien).”
Klien : “begini ya sus?”
Perawat : “ia ibu, betul sekali. Nah sekarang kita beralih pada pelatihan pergerakan pada jari-jari tangan ibu ya.”
Klien : “ia baik sus.”
Perawat : “apakah ibu sudah siap?”
Klien : “ia sus, saya siap.”
Perawat : “ibu ikuti lagi gerakan-gerakan saya ya bu!”
Klien : “ia baiklah sus.”
Perawat :   “gerakan   pertama   yaitu   (fleksi)   membuat genggaman. Ayo ibu buat genggaman seperti ini.” (perawat   memberikan   contoh   pergerakan   kepada   klien,   dan   klien mengikuti gerakan perawat)
Perawat :   “gerakan   yang   ke   dua   yaitu   (ekstensi)   ibu meluruskan jari-jari tangan seperti ini.” (perawat   memberikan   contoh   pergerakan   kepada   klien,   dan   klien mengikuti gerakan perawat)
Perawat :   “sekarang   kita   beralih   pada   gerakan   yang   ke   tiga yaitu   (hiperekstensi)   gerakan   jari-jari   tangan   ibu   ke belakang sejauh mungkin. Gerakannya hamper sama persis   seperti   gerakan   yang   tadi   bu.   seperti   ini (perawat   memberikan   contoh   pergerakan   kepada klien) jangan terlalu di paksakanya bu!”
Klien : “baik suster.”
Perawat : “bagaimana ibu? Apakah ada yang terasa sakit?”
Klien : “oh, tidak sus, saya tidak merasa sakit.”
Perawat : “kalau begitu kita lanjut pada gerakan selanjutnya ya bu!”
Klien : “baiklah sus.”
Perawat : “sekarang kita lanjut ke gerakan yang ke empat yaitu (abduksi)   regangkan   jari   tangan   yang   satu   dengan yang lainnya. Seperti ini (perawat memberikan contoh pergerakan kepada klien). Dan gerakan yang ke lima yaitu  (adduksi)   rapatkan   kembali jari-jari   tangan   ibu. Seperti   ini   (perawat   memberikan   contoh   pergerakan kepada klien).”
Klien : “begini ya sus?”
Perawat : “ ia begitu ibu. Sekarang kita langsung ke gerakan yang ke enam yaitu (ibu jari abduksi) jauhkan ibu jari ibu ke arah samping (biasanya dilakukan ketika jari-jari tangan melakukan  abduksi). Seperti ini (perawat memberikan   contoh   pergerakan   kepada   klien).
Perawat : “Bagaiman ibu terasa sakit tidak?”
Klien : “tidak kok sus, tidak terasa sakit.”
Perawat : “baiklah kita lanjutkan ke gerakan selanjutnya ya bu!”
Klien : “ia baik suster.”
Perawat : “gerakan selanjutnya, gerakan ke tujuh yaitu (ibu jari adduksi)   gerakkan   ibu   jari   ibu   ke   depan   tangan. Seperti   ini   (perawat   memberikan   contoh   pergerakan kepada  klien). Dan  gerakan yang  terakhir   yaitu (ibu jari oposisi) caranya dengan menyentuhkan ibu jari ibu pada setiap jari-jari tangan pada tangan yang sama. Seperti   ini   (perawat   memberikan   contoh   pergerakan kepada klien).
Klien : “oh, begini ya sus?”
Perawat :   “ia   ibu   betul   sekali.   Nah,   sekarang   pelatihannya sudah selesai ibu.”
Klien : “oh, sudah selesai ya sus.?”
Perawat : “ia bu, sudah selesai, ibu dapat melakukan pelatihan ini sendiri atau di bantu oleh keluarga  ibu,  jadi bisa melatih persendian ibu juga, supaya tidak kaku lagi.”
Klien :   “ia   baik   sus,   saya   akan   sering-sering   melakukan pelatihan ini.”
3.         Tahap Terminasi
Pada tahap ini perawat menanyakan atau mengevaluasi bagaimana perasaan klien setelah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan.
Perawat :   “ibu,   bagaimana   perasaannya   setelah   melakukan pelatihan pergerakan tadi?”
Klien : “saya merasa agak enakan sus, tangan saya sudah tidak   terlalu   kaku   seperti   tadi   sus.   Sudah   mulai nyaman untuk di gerakkan.
Perawat : “ia syukurlah kalau begitu. Ibu lebih sering berlatih saja.”
Klien : “ ia baik sus.”
Setelah  itu  perawat dan   klien menyepakati   tindak lanjut   terhadap interaksi   yang   telah   di   berikan.   Tibdak   lanjut   yang   diberikan   harus relevan   dengan   interaksi   yang   baru   di   lakukan   pada   pertemuan berikutnya.   Dengan   tindak   lanjut,   klien   tidak   akan   pernah   kosong menerima proses keperawatan selama 24 jam.
Perawat : “ibu,  pertemuan  selanjutnya  kita  akan melakukan pelatihan   pergerakan  pada   sendi   pinggul   dan  kaki ibu. Apakah ibu bersedia?”
Klien : “ia sus, saya bersedia.”
Selanjutnya   perawat   dan   klien   membuat   kontrak   waktu   untuk
pertemuan berikutnya dan terakhir ucapkan salam.
Perawat :   “ibu,   pertemuan   selanjutnya   akan   di   laksanakan besok dengan waktu yang sama. Jika besok saya tidak   dapat   hadir,   maka   perawat   lain   akan menggantikan saya.”
Klien : “ia baik sus.”
Perawat :   “baiklah   ibu,   hari   ini   cukup   sampai   di   sini   saja, saya   permisi   untuk   kembali   ke   ruangan.   Jika   ibu memerlukan sesuatu, ibu bisa memanggil saya atau perawat lain di ruang perawat.”
Klien : “ia baik sus.”
Perawat : “kalau begitu saya permisi. Selamat pagi bu!”
Klien : “selamat pagi juga sus.”
C.     Fase Post Interaksi
Pada tahap ini, perawat mencatat segala reaksi klien, ataupun hal-hal penting yang perlu di dokumentasikan dari tindakan keperawatan yang baru saja di lakukan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar