Minggu, 17 April 2016

Komunikasi Terapeutik Dalam Pemenuhan Mobilitas Pada Pasien Stroke



A.    Fase Prainteraksi
Pada   fase   ini   perawat   harus   mempersiapkan   dirinya,   baik   itu persiapan fisik maupun mental. Lalu di tahap ini perawat mengumpulkan data tentang klien meliputi identitas klien, Riwayat Keperawatan/kesehatan yang   di   dalamnya   beerisikan   tentang   keluhan   utama,   riwayat kesehatan/keperawatan sekarang, riwayat kesehatan masa lalu, riwayat kesehatan keluarga, riwayat kesehatan lingkungan dan riwayat kesehatan psikososial. Selain itu juga di kumpulkan juga data mengenai pemeriksaan fisik seperti keadaan umum, pemeriksaan tanda vital, pemeriksaan kulit, rambut,   kelenjar   getah   bening,   pemeriksaan   keoala   dan   leher, pemeriksaan   dada,   pemeriksaan   abdomen,   serta   pemeriksaan   anggota gerak dan neurologis, sebagai dasar dalam membuat rencana interaksi. Dan pada tahap ini pula perawat membuat perencanaan tindakan yang akan di implementasikan saat bertemu dengan klien.
B.     Fase Interaksi
1.         Tahap Orientasi
Tahap   ini   dimulai   pada   saat   bertemu   dengan   klien.   Pada   saat pertama kali bertemu dengan klien tahap ini di gunakan perawat untuk berkenalan dengan klien yang diawali dengan salam.
Perawat : “Selamat pagi ibu”
Klien : “Selamat pagi suster”
Perawat : “apakah betul anda ibu Gina Puspitasari?”
Klien : “ia betul sus”
Perawat :   “apakah   alamat   ibu   di   Perumahan   Riung   Bandung, jalan Saluyu B7 no.19?”
Klien : “ia sus betul sekali”
Perawat :  “sebelumnya,   perkenalkan  saya   perawat   Vera,  saya bertugas dari Pukul 07.00 – 12.00 WIB.”
Selanjutnya   perawat   menggali   perasaan   dan   pikiran   serta mengidentifikasi   masalah   klien.   Untuk   mendorong   klien mengekspresikan   perasaannya   maka   teknik   yang   digunakan   adalah pertanyaan terbuka.
Perawat : “ibu, bagaimana perasaan ibu hari ini?”
Klien : “saya sudah merasa lebih baik sekarang, tetapi tangan dan kaki saya masih terasa kaku sus.”
Perawat : “bagaimana tidurnya semalam bu? Apakah nyenyak?”
Klien :   “ya   lumayan   nyenyak   sus,   hanya   sesekali   saja Terbangun Saat malam, dan itupun lalu tidur lagi.”
Pada  tahap  ini  juga perawat  merumuskan kontrak  bersama  klien. Kontrak   dengan   klien   penting   untuk   menjaga   kelangsungan   sebuah interaksi. Kontrak yang harus disetujui dengan klien yaitu tempat, waktu dan topic pertemuan. Lalu perawat merumuskan tujuan dengan klien.
Perawat :   “baiklah   ibu,   hari   ini   kita   akan   melakukan   latihan pergerakan pada persendian ibu, kita akan melakukan pelatihannya di ruangan ini saja, pelatihan ini kurang lebih   berlangsung   15   hingga   20   menit,   pelatihan   ini bertujuan   untuk   melatih   persendian   ibu   supaya   tidak kaku. Apakah ibu bersedia?”
Klien : “ia sus, saya bersedia.”
Perawat : “baiklah jika ibu bersedia di mohon kerjasamanya ya bu!”
Klien : “ia sus.”
2.         Tahap Kerja
Pada tahap ini, perawat  mulai melaksanakan tindakan  yang  telah direncanakan dan telah di sepakayi oleh klien.
Perawat :   “baiklah   ibu   hari   ini   kita   hanya   akan   melakukan pelatihan   pergerakan   pada   persendian   pergelangan tangan   dan   jari-jari   tangan   saja.   Nanti   ibu   ikuti gerakan-gerakan saya,  dan ibu beri  tahu pada  saya jika   ibu   merasa   kesulitan   dalam   melakukan pergerakannya.
Klien : “ia baik sus.”
Perawat : “apakah ibu sudah siap?”
Klien : “ia sus, saya sudah siap.”
Perawat :   “sekarang   kita   lakukan   pelatihan   pergerakan   pada pergelangan tanga ibu terlebih dahulu. Ikuti gerakan saya   ya   bu,   gerakan   pertama   yaitu   (fleksi)   gerakan telapak   tangan   ibu   ke   sisi   bagian   dalam   lengan bawah.   Seperti   ini   (perawat   memberikan   contoh pergerakan kepada klien).
Klien : “seperti ini sus?”
Perawat : “ia betul sekali ibu. Bagaimana ibu? Terasa sakit atau tidak?”
Klien : “masih terasa kaku sus, tetapi sudah agak lumayan bisa di gerakan.”
Perawat : “ia bagus ibu,  ayo terus  saja,  tetapi  jangan  terlalu dipaksakan jika ibu merasa sakit.”
Klien : “ia baik sus.”
Perawat : “sekarang kita melakukan gerakan yang ke dua yaitu (ekstensi)   gerakan   jari-jari,   tangan   dan   lengan   ibu berada   di   arah   yang   sama.   Seperti   ini   (perawat memberikan contoh pergerakan kepada klien).
Klien : “seperti ini?
Perawat : “   ia   ibu,   benar   seperti  itu. bagaimana ibu?  Terasa sakit atau tidak?”
Klien : “tidak sama sekali sus.”
Perawat : “kita langsung saja ke gerakan yang ke tiga ya bu!”
Klien : “ia baiklah sus.
Perawat :  “gerakan   ke  tiga  yaitu   (hiperekstensi)   lengkungkan tangan ibu ke arah belakang sejauh mungkin. Seperti ini  (perawat   memberikan   contoh  pergerakan  kepada klien).”
Klien : “seperti ini sus?”
Perawat : “ia ibu betul sekali, lengkungkan tangannya sejauh mungkin,   tetapi   jika   sudah   terasa   sakit,   jangan   ibu paksakan. Semampu tangan ibu saja.”
Klien : “ia baiklah sus, saya hanya mampu sampai ini sus.”
Perawat :   “ia   tidak   apa-apa   ibu,   ini   sudah   bagus   sekali. Sekarang kita ke gerakan yang ke empat ya bu”
Klien : “ia sus.”
Perawat :   “gerakan   yang   ke   empat   yaitu   (abduksi)   tekukkan pergelangan   tangan   ibu  ke   arah  ibu  jari.   Seperti ini (perawat   memberikan   contoh   pergerakan   kepada klien). “
Klien : “begini ya sus?”
Perawat :   “ia   betul   ibu.  Ayo   lakikan   sekali   lagi   bu!   Baiklah, sekarang kita lakukan gerakan ke empat ini gerakan terakhir   untuk   pelatihan   pergerakan   pada   tangan. Gerakannya   yaitu   (adduksi)   tekukkan   pergelangan tangan ibu miring ke arah lima jari. Seperti ini (perawat memberikan contoh pergerakan kepada klien).”
Klien : “begini ya sus?”
Perawat : “ia ibu, betul sekali. Nah sekarang kita beralih pada pelatihan pergerakan pada jari-jari tangan ibu ya.”
Klien : “ia baik sus.”
Perawat : “apakah ibu sudah siap?”
Klien : “ia sus, saya siap.”
Perawat : “ibu ikuti lagi gerakan-gerakan saya ya bu!”
Klien : “ia baiklah sus.”
Perawat :   “gerakan   pertama   yaitu   (fleksi)   membuat genggaman. Ayo ibu buat genggaman seperti ini.” (perawat   memberikan   contoh   pergerakan   kepada   klien,   dan   klien mengikuti gerakan perawat)
Perawat :   “gerakan   yang   ke   dua   yaitu   (ekstensi)   ibu meluruskan jari-jari tangan seperti ini.” (perawat   memberikan   contoh   pergerakan   kepada   klien,   dan   klien mengikuti gerakan perawat)
Perawat :   “sekarang   kita   beralih   pada   gerakan   yang   ke   tiga yaitu   (hiperekstensi)   gerakan   jari-jari   tangan   ibu   ke belakang sejauh mungkin. Gerakannya hamper sama persis   seperti   gerakan   yang   tadi   bu.   seperti   ini (perawat   memberikan   contoh   pergerakan   kepada klien) jangan terlalu di paksakanya bu!”
Klien : “baik suster.”
Perawat : “bagaimana ibu? Apakah ada yang terasa sakit?”
Klien : “oh, tidak sus, saya tidak merasa sakit.”
Perawat : “kalau begitu kita lanjut pada gerakan selanjutnya ya bu!”
Klien : “baiklah sus.”
Perawat : “sekarang kita lanjut ke gerakan yang ke empat yaitu (abduksi)   regangkan   jari   tangan   yang   satu   dengan yang lainnya. Seperti ini (perawat memberikan contoh pergerakan kepada klien). Dan gerakan yang ke lima yaitu  (adduksi)   rapatkan   kembali jari-jari   tangan   ibu. Seperti   ini   (perawat   memberikan   contoh   pergerakan kepada klien).”
Klien : “begini ya sus?”
Perawat : “ ia begitu ibu. Sekarang kita langsung ke gerakan yang ke enam yaitu (ibu jari abduksi) jauhkan ibu jari ibu ke arah samping (biasanya dilakukan ketika jari-jari tangan melakukan  abduksi). Seperti ini (perawat memberikan   contoh   pergerakan   kepada   klien).
Perawat : “Bagaiman ibu terasa sakit tidak?”
Klien : “tidak kok sus, tidak terasa sakit.”
Perawat : “baiklah kita lanjutkan ke gerakan selanjutnya ya bu!”
Klien : “ia baik suster.”
Perawat : “gerakan selanjutnya, gerakan ke tujuh yaitu (ibu jari adduksi)   gerakkan   ibu   jari   ibu   ke   depan   tangan. Seperti   ini   (perawat   memberikan   contoh   pergerakan kepada  klien). Dan  gerakan yang  terakhir   yaitu (ibu jari oposisi) caranya dengan menyentuhkan ibu jari ibu pada setiap jari-jari tangan pada tangan yang sama. Seperti   ini   (perawat   memberikan   contoh   pergerakan kepada klien).
Klien : “oh, begini ya sus?”
Perawat :   “ia   ibu   betul   sekali.   Nah,   sekarang   pelatihannya sudah selesai ibu.”
Klien : “oh, sudah selesai ya sus.?”
Perawat : “ia bu, sudah selesai, ibu dapat melakukan pelatihan ini sendiri atau di bantu oleh keluarga  ibu,  jadi bisa melatih persendian ibu juga, supaya tidak kaku lagi.”
Klien :   “ia   baik   sus,   saya   akan   sering-sering   melakukan pelatihan ini.”
3.         Tahap Terminasi
Pada tahap ini perawat menanyakan atau mengevaluasi bagaimana perasaan klien setelah berinteraksi atau setelah melakukan tindakan.
Perawat :   “ibu,   bagaimana   perasaannya   setelah   melakukan pelatihan pergerakan tadi?”
Klien : “saya merasa agak enakan sus, tangan saya sudah tidak   terlalu   kaku   seperti   tadi   sus.   Sudah   mulai nyaman untuk di gerakkan.
Perawat : “ia syukurlah kalau begitu. Ibu lebih sering berlatih saja.”
Klien : “ ia baik sus.”
Setelah  itu  perawat dan   klien menyepakati   tindak lanjut   terhadap interaksi   yang   telah   di   berikan.   Tibdak   lanjut   yang   diberikan   harus relevan   dengan   interaksi   yang   baru   di   lakukan   pada   pertemuan berikutnya.   Dengan   tindak   lanjut,   klien   tidak   akan   pernah   kosong menerima proses keperawatan selama 24 jam.
Perawat : “ibu,  pertemuan  selanjutnya  kita  akan melakukan pelatihan   pergerakan  pada   sendi   pinggul   dan  kaki ibu. Apakah ibu bersedia?”
Klien : “ia sus, saya bersedia.”
Selanjutnya   perawat   dan   klien   membuat   kontrak   waktu   untuk
pertemuan berikutnya dan terakhir ucapkan salam.
Perawat :   “ibu,   pertemuan   selanjutnya   akan   di   laksanakan besok dengan waktu yang sama. Jika besok saya tidak   dapat   hadir,   maka   perawat   lain   akan menggantikan saya.”
Klien : “ia baik sus.”
Perawat :   “baiklah   ibu,   hari   ini   cukup   sampai   di   sini   saja, saya   permisi   untuk   kembali   ke   ruangan.   Jika   ibu memerlukan sesuatu, ibu bisa memanggil saya atau perawat lain di ruang perawat.”
Klien : “ia baik sus.”
Perawat : “kalau begitu saya permisi. Selamat pagi bu!”
Klien : “selamat pagi juga sus.”
C.     Fase Post Interaksi
Pada tahap ini, perawat mencatat segala reaksi klien, ataupun hal-hal penting yang perlu di dokumentasikan dari tindakan keperawatan yang baru saja di lakukan.


Kamis, 07 April 2016

PERSONAL HYGIENE

PERSONAL HYGIENE




Oleh

YETTI RETNOWATI
NIM. K.011.015.020




PROGRAM STUDI S1-ILMU KEPERAWATAN
STIKES DUTA GAMA KLATEN

2016


KATA PENGANTAR
            Tiada kata yang dapat saya sampaikan kecuali rasa syukur kehadirat Allah SWT hingga saat ini saya diberikan kesempatan untuk dapat menulis sebuah makalah, hanya karena rahmat yang diberikan-Nya saya dapat merangkai makalah ini hingga selesai. Apapun yang saya sajikan semoga selalu bermanfaat bagi para pembacanya.
            Pada makalah ini, saya dapat sampaikan sebuah realita yang ada di kehidupan saat ini, yang mampu memberikan inspirasi untuk mengkaji aspek kehidupan yang berdampak dan terjadi khususnya Personal Hygiene.
            Saya sangat menyadari, karya makalah ini banyak kekurangan baik isi maupun teknik penulisan. Untuk itu kritik dan saran bersifat membangun selalu saya harapkan. Pada kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada Ibu Tatik Handayani, S.Kep,Ns selaku Dosen Konsep Dasar Keperawatan I.


                                                                                    Klaten, 25 Maret 2016
                                                                                                Penulis









ii


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................ii
DAFTAR ISI ..........................................................................................................iii
Bab I  Pendahuluan
  1. Latar belakang ............................................................................................1
  2. Tujuan ……………….................................................................................1
  3. Rumusan Masalah………............................................................................1
  4. Manfaat ……...…………………………..………………………………..1

Bab II Pembahasan
1     Konsep personal Hygiene………………………….….………………..…2
2        Pengertian personal hygiene……………..……………………………… 2
3        Faktor yang mempengaruhi personal hygiene...........................................3
4.   Tipe personal hygiene ……………………………………..……………...4
       5.   Jenis personal hygiene …………………………………………………...6
  6.  Tujuan Personal Hygiene ……………………………………..…………..7
  7.   Dampak yang sering ditimbulkan ………………………………...………8
       8.   Askep personal hygiene…………………………………………………..8
       9.   Prosedur personal hygiene ……………………………………………...12

Bab III Penutup
1.      Kesimpulan .............................................................................................. 23
  1. Saran ……..……………………………………………………………... 23
DAFTAR PUSTAKA





iii




BAB I
PENDAHULUAN

1.1       Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat berpengaruh diantaranya kebudayaan, social, keluarga, pendidikan. Persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta perkembangan ( dalam Tarwoto & Wartonah 2006).
Praktik hygiene sama dengan peningkatan kesehatan. Dengan implementasi tindakan hygiene pasien, atau membantu anggota keluarga untuk melakukan tindakan itu dalam lingkungan rumah sakit, perawat menambah tingkat kesembuhan pasien.
1.2       Tujuan
1.2.1    Bagaimanakah konsep personal hygiene
1.2.2    Apa faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene
1.2.3    Apa macam-macam personal hygiene ?
1.2.4    Apa jenis-jenis personal hygiene ?
1.2.5    Apa tujuan personal hygiene ?
1.2.6    Apa dampak yang sering muncul ?
1.2.7    Bagaimana pengkajian personal hygiene ?
1.2.8    Bagaimana pengkajian status personal hygiene ?
1.2.9    Bagaimana intervensi personal hygiene ?
1.2.10  Bagaimana evaluasi personal hygiene ?
1.3       Rumusan Masalah
Untuk mempelajari dan memahami personal hygiene.
1.4       Manfaat
a.      Pembaca dapat memahami personal hygiene
b.      Pembaca dapat mengetahui jenis-jenis personal hygiene
c.      Pembaca dapat melaksanakan prosedur personal hygiene
BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Konsep personal Hygiene
2.1.1    Pengertian personal hygiene
Personal Hygiene berasal dari bahasaYunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis.
Menurut beberapa ahli :
a.       Sjarifuddin 
Personal hygiene adalah kesehatan pada seseorang atau perseorangan. Sjarifudin. 1979 (dalam Basyar.2005)
b.      Efendy
Dalam kehidupan sehari-hari kebersihan merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan karena kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang. Kebersihan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh nilai individu dan kebiasaan. Hal-hal yang sangat berpengaruh itu di antaranya kebudayaan, sosial, keluarga, pendidikan, persepsi seseorang terhadap kesehatan, serta tingkat perkembangan. (dalam Astutiningsih, 2006)
c.       Depkes
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri ( Depkes 2000).
d.      Nurjannah
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas perawatan diri (mandi, berhias,makan, toileting)
e.       Poter. Perry
Menurut Poter. Perry (2005), Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis, kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya (dalam Tarwoto dan Wartonah 2006 )       
2.1.2    Faktor yang mempengaruhi personal hygiene
a. Citra tubuh
Penampilan umum klien dapat menggambarkan pentinya hygiene pada orang tersebut. Citra tubuh merupakan konsep subjektif seseorang tentang penampilan fisiknya. Citra tubuh ini dapat sering berubah. Citra tubuh mempengaruhi cara mempertahankan hygiene.
b. Praktik social
Kelompok-kelompok social wadah seorang klien berhubungan dapat mempengaruhi praktik hygiene pribadi. Selama masa kanak-kanak mendapatkan praktik hygiene dari orang tua mereka.
c. Status sosio-ekonomi
Sumber daya ekonomi seseorang mempengaruhi jenis dan tingkat praktik kebersihan yang digunakan. Perawat harus menentukan apakah klien dapat menyediakan bahan-bahan yang penting seperti deodorant, sampo, pasta gigi dan kosmetik.
d. Pengetahuan
Pengetahuan tentang pentingnya hygiene dan implikasinya bagi kesehatan mempengaruhi praktik hygiene.
e. Kebudayaan
Kepercayaan kebudayaan klien dan nilai pribadi mempengaruhi perawatan hygiene. Orang dari latar kebudayaan yang berbeda mengikuti praktik keperawatan diri yang berbeda pula.
f.       Pilihan pribadi
Setiap klien memiliki keinginan individu dan pilihan tentang kapan untuk mandi, bercukur, dan melakukan perawatan rambut.
g.      Kondisi fisik
Orang yang menderita penyakit tertentu atau menjalani operasi sering kali kekurangan energi fisik atau ketangkasan untuk melakukan hygiene pribadi.

2.1.2    Tipe personal hygiene
2.1.2.1 Kesehatan Gigi dan Mulut
Mulut beserta lidah dan gigi merupakan sebagian dari alat pencerna makanan. Mulut berupa suatu rongga yang dibatasi oleh jaringan lunak, dibagian belakang berhubungan dengan tengggorokan dan didepan ditutup oleh bibir. Lidah terdapat didasar rongga mulut terdiri dari jaringan yang lunak dan ujung-ujung syaraf pengecap. Gigi terdiri dari jaringan keras yang terdapat dirahang atas dan bawah yang tersusun rapi dalam lengkungan (Depdikbud, 1986:33).
Makanan sebelum masuk ke dalam perut, perlu dihaluskan, maka makanan tersebut dihaluskan oleh gigi dalam rongga mulut. Lidah berperan sebagai pencampur makanan, penempatan makanan agar dapat dikunyah dengan baik dan berperan sebagai indera perasa dan pengecap. Penampilan wajah sebagian ditentukan oleh tata letak gigi. Disamping itu juga sebagai pembantu pengucapan kata-kata dengan jelas dan terang (Soenarko, 1984: 28). Gigi yang sehat adalah gigi yang rapi, bersih, bercahaya,gigi tidak berlubang dan didukung oleh gusi yang kencang dan berwarna merah muda.
2.1.2.2 Kesehatan Rambut dan kulit rambut
Rambut berbentuk bulat panjang, makin ke ujung makin kecil dan ujungnya makin kecil. Pada bagian dalam berlubang dan berisi zat warna. Warna rambut setiap orang tidak sama tergantung zat warna yang ada didalamnaya. Rambut dapat tumbuh dari pembuluh darah yang ada disekitar rambut (Depdikbud, 1986:23). Rambut merupakan pelindung bagi kulit kepala dari sengatan matahari dan hawa dingin.
Tujuan bagi klien yang membutuhkan perawatan rambut dan kulit kepala meliputi sebagai berikut:
1.      Pola kebersihan diri klien normal
2.      Klien akan memiliki rambut dan kulit kepala bersih yang sehat
3.      Klien akan mencapai rasa nyaman dan harga diri
4.      Klien dapat mandiri dalam kebersihan diri sendiri
5.      Klien akan berpartisipasi dalam praktik perawatan rambut.
2.1.2.3 Kesehatan kulit
Kulit terletak diseluruh permukaan luar tubuh. Secara garis besar kulit dibedakan menjadi 2 bagian yaitu bagian luar yang disebut kulit ari dan bagian dalam yang disebut kulit jangat. Kulit ari berlapis-lapis dan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu lapisan luar yang disebut lapisan tanduk dan lapisan dalam yang disebut lapisan malpighi. Kulit jangat terletak disebelah bawah atau sebelah dalam dari kulit ari (Depdikbud, 1986:16). Kulit merupakan pelindung bagi tubuh dan jaringan dibawahnya. Perlindungan kulit terhadap segala rangsangan dari luar, dan perlindungan tubuh dari bahaya kuman penyakit. Sebagai pelindung kulit pun sebagai pelindung cairan-cairan tubuh sehingga tubuh tidak kekeringan dari cairan. Melalui kulitlah rasa panas, dingin dan nyeri dapat dirasakan. Guna kulit yang lain sebagai alat pengeluaran ampas-ampas berupa zat yang tidak terpakai melalui keringat yang keluar lewat pori-pori (Soenarko, 1984:4).
2.1.2.4 Kesehatan Telinga
Telinga dapat dibagi dalam tiga bagian yaitu bagian paling luar, bagian tengah, dan daun telinga. Telinga bagian luar terdiri dari lubang telinga dan daun telinga. Telinga bagian tengah terdiri dari ruang yang terdiri dari tiga buah ruang tulang pendengaran. Ditelinga bagian dalam terdapat alat keseimbangan tubuh yang terletak dalam rumah siput (Depdikbud, 1986 : 30).


2.1.2.5  Kesehatan Kuku
Kuku terdapat di ujung jari bagian yang melekat pada kulit yang terdiri dari sel-sel yang masih hidup. Bentuk kuku bermacam-macam tergantung dari kegunaannya ada yang pipih, bulat panjang, tebal dan tumpul (Depdikbud, 1986:21). Guna kuku adalah sebagai pelindung jari, alat kecantikan, senjata , pengais dan pemegang (Depdikbud ,1986:22).
2.1.2.6 Kesehatan Mata
 Pembersihan mata biasanya dilakukan selama mandi dan melibatkan pembersihan dengan washlap bersih yang dilembabkan kedalam air. Sabun yang menyebabkan panas dan iritasi biasanya dihindari. Perawat menyeka dari dalam ke luar kantus mata untuk mencegah sekresi dari pengeluaran ke dalam kantong lakrimal.
2.1.2.7  Kesehatan Hidung
Klien biasanya mengangkat sekresi hidung secara lembut dengan membersihkan ke dalam dengan tisu lembut. Hal ini menjadi hygiene harian yang diperlukan. Perawat mencegah klien jangan mengeluarkan kotoran dengan kasar karena mengakibatkan tekanan yang dapat mencenderai gendang telinga, mukosa hidung, dan bahkan struktur mata yang sensitif. Perdarahan hidung adalah tanda kunci dari pengeluaran yang kasar, iritasi mukosa, atau kekeringan.
2.1.3    Jenis personal hygiene berdasarkan waktu pelaksanaannya
Menurut Alimul (2006) personal hygiene berdasarkan waktu pelaksanaannya dibagi menjadi empat yaitu:
a.   Perawatan dini hari
Merupakan personal hygiene yang dilakukan pada waktu bangun tidur, untuk melakukan tindakan untuk tes yang terjadwal seperti dalam pengambilan bahan pemeriksaan (urine atau feses), memberikan pertolongan seperti menawarkan bedpan atau urinal jika pasien tidak mampu ambulasi, mempersiapkan pasien dalam melakukan sarapan atau makan pagi dengan melakukan tindakan personal hygiene, seperti mencuci muka, tangan, menjaga kebersihan mulut.
b.   Perawatan pagi hari
Merupakan personal hygiene yang dilakukan setelah melakukan sarapan atau makan pagi seperti melakukan pertolongan dalam pemenuhan kebutuhan eliminasi (BAB / BAK), mandi atau mencuci rambut, melakukan perawatan kulit, melakukan pijatan pada punggung, membersihkan mulut, kuku, rambut, serta merapikan tempat tidur pasien. Hal ini sering disebut sebagai perawatan pagi yang lengkap.
c.    Perawatan siang hari
Merupakan personal hygiene yang dilakukan setelah melakukan berbagai tindakan pengobatan atau pemeriksaan dan setelah makan siang dimana pasien yang dirawat di rumah sakit seringkali menjalani banyak tes diagnostik yang melelahkan atau prosedur di pagi hari. Berbagai tindakan  personal hygiene yang dapat dilakukan, antara lain mencuci muka dan tangan, membersihkan mulut, merapikan tempat tidur, dan melakukan pemeliharaan kebersihan lingkungan kesehatan pasien.
d.   Perawatan menjelang tidur
Merupakan personal hygiene yang dilakukan pada saat menjelang tidur agar pasien relaks sehingga dapat tidur atau istirahat dengan tenang. Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan, antara lain pemenuhan kebutuhaneliminasi (BAB / BAK), mencuci tangan dan muka, membersihkan mulut, dan memijat daerah punggung.
2.1.4   Tujuan Personal Hygiene
a.       Menghilangkan minyak, keringat , sel-sel kulit yang mati dan bakteri
b.      Menghilangkan bau badan yang berlebihan
c.       Memelihara integritas permukaan kulit
d.      Menstimulasi sirkulasi / peredaran darah
e.       Meningkatkan perasaan sembuh bagi klien
f.        Memberikan kesempatan untuk mengkaji kondisi kulit klien
g.       Meningkatkan percaya diri seseorang
h.       Menciptakan keindahan
i.         Meningkatkan derajat kesehatan sesorang
2.1.5  Dampak yang sering ditimbulkan
1.  Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik. Gangguan fisik yangsering terjadi adalah:Gangguan intergritas kulit,gangguan membranemukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga,dan gangguan fisik padakuku.
2. Dampak Psikososial
Masalah social yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri, dan gangguan interaksisosial.
2.2  Askep personal hygiene
2.2.1  Pengkajian  
1. Pengkajian
a. Riwayat keperawatan
1)      Pola kebersihan tubuh
2)      Perlengkapan personal hygiene yang dipakai
3)      Faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene
b. Pemeriksaan fisik
1)      Rambut
a)      Keadaan kesuburan rambut
b)      Keadaan rambut yang mudah rontok
c)      Keadaan rambut yang kusam
d)      Keadaan tekstur
2)      Kepala

a)      Botak/alopesia
b)      Ketombe
c)      Berkutu
d)      Adakah Eritema
e)      Kebersihan

3)      Mata
a)      Apakah sklera ikterik
b)      Apakah kunjungtiva pucat
c)      Kebersihan mata
d)      Apakah gatal/mata merah
4)      Hidung
a)      Adakah pilek
b)      Adakah elergi
c)      Adakah pendarahan
d)      Adakah perubahan penciuman
e)      Kebersihan hidung
f)       Bagaimana membran mukosa
g)      Adakah septum deviasi
5)      Mulut
a)      Keadaan mukosa mulut
b)      Kelembapannya
c)      Adakah lesi
d)      Kebersihan
6)      Gigi
a)      Adakah karang gigi
b)      Adakah karies
c)      Kelengkapan gigi
d)      Pertumbuhan
e)      Kebersihan
7)      Telinga
a)      Adakah kotoran
b)      Adakah lesi
c)      Bagaimana bentuk telinga
d)      Adakah infeksi
8)      Kulit
a)      Kebersihan
b)      Adakah lesi
c)      Keadaan turgor
d)      Warna kulit
e)      Suhu
f)       Teksturnya
g)      Pertumbuhan bulu
9)      Kuku tangan dan kaki
a)      Bentuknya bagaimana
b)      Warnanya
c)      Adakah lesi
d)      Pertumbuhannya
10)  Genetalia
a)      Kebersihan
b)      Pertumbuhan rambut pubis
c)      Keadaan kulit
d)      Keadaan lubang uretra
e)      Keadaan skrotum, testis pada pria
f)      Cairan yang dikeluarkan
11)  Tubuh secara umum
a)      Kebarsihan
b)      Normal
c)      Keadaan postur
2.2.2   Diagnosa keperawatan
a.      Gangguan integritas kulit
Keadaan di mana kulit seseorang tidak utuh. Kemungkinan berhubungan dengan :
1)  Bagian tubuh yang lama tertekan
2)  Imobilitasi
3)  Terpapar zat kimia
Kemungkinan data yang ditemukan
1) Kerusakan jaringan kulit
2) Gangrene
3) Dekubitus
4) Kelemahan fisik
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada :
1) Stroke
2)  Fraktur femur
3)  Koma
4)  Trauma medulla spinalis
Tujuan yang diharapkan
1)  Pola kebersihan diri pasien normal
2)  Keadaan kulit, rambut kepala bersih
3)  Klien dapat mandiri dalam kebersihan diri sendiri
b. Gangguan membrane mukosa mulut
Kondisi dimana mukosa mulut pasien mengalami luka
Kemungkinan berhubungan dengan :
1)  Trauma oral
2)  Pembatasan intake cairan
3)  Pemberian kemoterapi dan radiasi pada kepala dan leher
Kemungkinan data yang ditemukan
1)  Iritasi atau luka pada mukosa mulut
2)  Peradangan atau infeksi
3)  Kesulitan dalam makan dan menelan
 4)  Keadaan mulut yang kotor
Kondisi klinis kemungkinan terjadi pada
1)  Stroke
2)  Stomatitis
3)  Koma
Tujuan yang diharapkan
1)  Keadaan mukosa mulut, lidah dalam keadaan utuh, warna merah muda
2)  Inflamasi tidak terjadi
3)  Klien mengatakan rasa nyaman
4)  Keadaan mulut bersih


c. Kurangnya perawatan diri / kebersihan diri
Kondisi seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan dirinya.
Kemungkinan berhubungan dengan :
a. Kelelahan fisik
b. Penurunan kesadaran
Kemungkinan data yang ditemukan.
a.  Badan kotor dan berbau
b.  Rambut kotor
c.  Kuku panjang dan kotor
d. Bau mulut dan motor
2.3       Prosedur personal hygiene
2.3.1    Personal hygiene rambut sampai kaki
a.      Perawatan kulit kepala dan rambut 
Merupakan tindakan keperawatan pada pasien yang tidak mampu memenuhi kebutuhan perawatan diri dengan cara mencuci dan menyisir rambut.Tujuannya adalah membersihkan kuman kuman yang ada pada kulit kepala, menambaha rasa nyaman, membasmi kutu atau ketombe yang melekat pada kulit, serta memperlancar system peredaran darah di bawah kulit.
Alat dan Bahan

1.Handuk secukupnya
2.Perlak atau pengalas
3.Baskom berisi air hanagt
4.Sampo atau sabun
5.Kasa dan kapas
6.Sisir
7.Bengkok/nierbekken
8.Gayung
9.Ember kosong

Menjaga kebersihan atau pemeliharaan rambut dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1.   Pencucian Rambut
Frekuensi pencucian rambut sangat tergantung pada:
a.       Tebal atau tipisnya rambut
b.      Lingkungan atau tempat tinggal seseorang, misalnya pada lingkungan yang berdebu orang tersebut harus sering mencuci rambutnya.
c.       Seseorang yang memakai minyak rambut harus sering mencuci rambutnya.
Adapun cara – cara mencuci rambut adalah :
Prosedur Kerja
1.      Jelaskan prosedur pada pasien
2.      Cuci tangan
3.      Tutup jendela atau pasang sampiran
4.      Kondisikan pasien dalam posisi tidur
5.      Letakkan baskom di bawah tempat tidur tepat di bawah kepala pasien
6.      Pasang perlak atau pengalas di bawah kepala dan sambungkan ke arah bagian baskom dengan pinggir di gulung
7.      Tutup telinga dengan kapas
8.      Tutup dada dengan handuk sampai ke leher
9.      Kemudian, sisir rambut dan lakukan pencucian dengan air hangat , selanjutnya gunakan sampo dan bilas dengan air hangat sambil di pijat
10.  Setelah selesai keringkan
11.  Cuci tangan
b.      Perawatan kulit seluruh tubuh
Kulit memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga dan memelihara kesehatan tubuh. Cara membersihkan kulit secara keseluruhan umumnya dengan mandi, karena mandi berguna untuk menghilangkan kotoran yang melekat pada permukaan kulit, menghilangkan bau keringat, merangsang peredaran darah dan syaraf dan mengembalikan kesegaran tubuh.
a.      Cara merawat kulit
Alat dan Bahan :

a. Baskom cuci
b. Sabu
c. Air
d. Agen  pembersih
e. Balutan
f. Pelindung kulit
g. Plester
h. Sarung tangan

Prosedur Kerja
1.Jelaskan prosedur pada pasien
2.Cuci tangan dan gunakan sarung tangan
3.Tutup pintu ruangan
4.Atur posisi pasien
5.Kaji ulang /kulit tertekan dengan memperhatikan warna, kelembaban, penampilan, sekitar kulit, ukur diameter kulit, ukur kedalaman.
6.Cuci kulit sekitar luka dengan air hangat atau sabun cuci secara menyeluruh dengan air.
7.Perlahan lahan keringkan kulit secara menyeluruh.
8.Bersihkan luka secara menyeluruh dengan cairan normal atau larutan pembersih, gunakan, semprit irigasi luka pada luka yang dalam.
9.Setelah selesai berikan obat atau agen topical.
10.Catat hasil
11.Cuci tangan
c.  Memandikan Pasien di Tempat Tidur
Tindakan keperawatan di lakukan pada pasien yang tidak mampu mandi secara      sendiri dengan cara memandikan di tempat tidur. Tujuannya adalah menjaga kebersihan tubuh, mengurangi infeksi akibat kulit kotor, memperlancar sisitem peredaran darah, dan menambah kenyamanan pasien.
Alat dan Bahan
1.Baskom mandi dua buah, masing-masing berisi air dingin dan hangat.
2.Pakaian pengganti
3.Kain penutup
4.Handuk, sarung tangan pengusap badan
5.Tempat untuk pakaian kotor
6.Sampiran
7.Sabun

Prosedur Kerja
1.      Jelaskan prosedur pada pasien
2.      Cuci tangan
3.      Atur posisi pasien
4.      Lakukan tindakan memandikan pasien yang di awali dengan membentangkan handuk di bawah kepala, kemudian bersihkan muka, telinga, dan leher dengan sarung tangan pengusap. Keringkan dengan handuk.
5.      Kain penutup di turunkan, kedua tangan pasien di angkat dan di pindahkan handuk di atas  dada pasien, lalu bentangkan. Kemudian, kembalikan kedua tangan ke posisi awal di atas handuk, lalu basahi kedua tangan dengan air bersih. Lalu keringkan dengan handuk.
6.      Kedua tangan di angkat, handuk di pindahkan di sisi pasien, bersihkan daerah dada dan perut, lalu keringkan dengan handuk.
7.      Miringkan pasien ke kiri, handuk di bentangkan di bawah punggung sampai glutea dan basahi punggung hingga glutea, lalu keringkan dengan handuk. Selanjutnya, miringkan pasien ke kanan dan lakukan hal yang sama. Kemudian, kembalikan pasien pada posisi telentang dan pasangkan pakaian dengan rapi.
8.      Letakkan handuk di bawah lutut lalu bersihakan kaki. Kaki yang paling jauh di dahulukan dan di keringkan dengan handuk.
9.      Ambil handuk dan letakkan di bawah glutea. Pakaian bawah perut di buka, lalu bersihkan daerah lipatan paha dan genetalia. Setelah selesai, pasang kembali pakaian dengan rapi.
10.   Cuci tangan.
a.      Memelihara kebersihan dan kesehatan mata
            Yang perlu dipersiapkan
a.      Air  hangat
b.      Kapas
c.      Kain
d.      Sapu tangan yang bersih
Prosedurnya :
1.   Mata sebaiknya dibersihkan setiap hari.
2.   Sewaktu – waktu sebaiknya dibersihkan dengan boor water 3% atau air yang sudah dimasak. Caranya ialah dengan menyapukan kapas mulai dari pinggir mata menuju ke arah tengah ( menuju hidung ). Lakukan hal ini berulang – ulang sampai mata terasa bersih
3.  Jangan menggosok mata dengan tangan yang kotor, kain atau sapu tangan yang kotor atau sapu tangan orang lain.
4.  Periksakan mata ke setahun sekali ke dokter spesialis atau petugas kesehatan terdekat.
5.   Biasakan membaca pada tempat yang cukup terang dengan jarak mata dan obyek yang dibaca tidak kurang dari 30 cm.
c.       Perawatan kuku kaki dan tangan
Merupakan tindakan keperawatan pada pasien yang tidak mampu merawat kuku sendiri. Tujuannya adalah menjaga kebersihan kuku dan mencegah timbulnya luka atau infeksi akibat garukan dari kuku.
Alat dan bahan
1.  Alat pemotong kuku
2.  Handuk
3.  Baskom berisi air hangat
4.  Bengkok/nierbekken
5.  Sabun
6.  Kapas
7.  Sikat kuku

Prosedur kerja
1. Jelaskan prosedur pada pasien
2. Cuci tangan
3.  Atur posisi pasien dengan duduk atau tidur
4. Tentukan kuku yang akan di potong
5.  Rendamlah kuku denga air hangat kurang lebih 2 menit dan lakukan sikat dengan beri sabun bila kotor.
6. Keringkan dengan handuk
7. Letakkan tangan di atas bengkok /nierbekken dan lakukan pemotongan kuku.
8.  Cuci tangan
d.      Perawatan genetalia
1.      Alat dan Bahan
a.       Baskom
b.      Sabun dan tempatnya
c.       Dua atau tiga waslap
d.      Handuk mandi
e.       Selimut mandi
f.        Alas tahan air atau bedpan
g.       Tisu toilet
h.       Sarung tangan pakai
2.       Prosedur Kerja
1.      Identifikasi pasien berisiko untuk perkembangan infeksi genitalia, atau saluran saluran reproduksi (misalnya keberadaan kateter yang tetap, inkontensia fekal atau insisi bedah).
2.      Jelaskan prosedur dan tujuan pada pasien
3.      Persiapkan alat dan bahan 
Bahan bahan tanbahan bila perawatan perinium di berikan selama waktu di luar mandi :
a.       Bola kapas atau lidi kapas
b.      Botol larutan atau tempat yang di isi air dengan air hangat atau larutan pembersih yang di resapkan
c.       Kanting tahan air
4.      Atur peralatan di samping tempat tidur
5.      Cuci tangan
6.      Tutup pintu kamar dan tutup jendela untuk menjaga privasi pasien.Tinggikan tempat tidur sampai posisi kerja yang nyaman.
7.      Turunkan penghalang tempat tidur dan bantu pasien pada posisis miring, letakkan handuk sepanjang sisi badan pasien dan pertahankan pasien agar tertutup dengan selimut mandi semaksimal mungkin.
8.      Kenakan sarung tangan sekali pakai
9.      Jika ada feses, ambil popok atau tisu toilet dan bersihkan dengan usapan sekali buang. Bersihkan bokong dan anus depan ke belakang. Bersihkan dan bilas dengan teliti. Keringkan secara lengkap. Pindahkan dan buang popok dag anti dengan yang baru.
10.  Berikan perawatan genitilia
a.      Perawatan pada wanita
1.      Ganti sarung tangan jika sudah kotor
2.      Letakkan popok tahan air di bawah bokong pasien dengan posisi pasien supine (tambahan: letakkan pispot di bawah pasien).
3.      Bantu pasien dengan posisi dorsal rekumben
4.      Lipat linen tempat tidur paling atas ke arah kaki tempat tidur dan angkat baju pasien sampai daerah genitalia
5.      Bungkus pasien secara “DIAMOND” dengan menempatkan selimut mandi dengan satu ujung di antara dua kaki, satu ujung arah masing masing sisi tempat tidur, dan satu ujung di atas dada.
6.      Naikkan penghalang tempat tidur. Isi baskom dengan air hangat
7.      Turunkan penghalang dan bantu pasien memfleksi lututnya dan pisahkan dua kaki terbuka.
8.      Lipat ujung bawah selimut mandi di antara ke dua tungkai pasien ke arah abdomen
9.      Bersihkan dan keringkan paha atas pasien .
10.  Bersihaka labia mayora
11.  Pisahkan labia dengan tangan tidak dominan untuk membuka meatus uretra dan orifisium vagina.
12.  Jika pasien di atas pispot, siram air hangat di atas daerah perineum.
13.  Keringkan daerah perineum secara merata
14.  Lipat ujung bawah selimut mandi kembali di antara kaki pasien dan di atas perineum. Minta pasien untuk menurunkan kaki dan memperoleh posisi nyaman.
b.      Perawatan pada pria
a.       Ganti sarung tangan jika sudah kotor
b.      Turunkan penghalang, turunkan ujung atas selimut mandi di bawah perineum pasien. Secara lembut angkat penis dan letakkan handuk mandi di bawahnya.
c.       Secara lembut raih tungkai penis. Jika pasien ereksi tangguhkan prosedur 
d.      Cuci kepala penis pertama pada meatus urethra
e.       Kembalikan kulit luar ke posisi semula
f.        Cuci tangkai penis dengan usapan lembut tetapi tegas ke arah. Beri perhatian khusus pada permukaan bawah penis.
g.       Bilas dan keringkan secara erata instruksikan pasien untuk membuka kaki sedikit.
h.       Secara lembut bersihkan skrotum.
i.         Lipat kembali selimut mandi di atas perineum dan bantu pasien kembali ke posisis yang nyaman
e.      Perawatan hidung
Yang perlu dipersiapkan :
1.      Cutton bath
2.      Wash lap
3.      Kapas
Prosedurnya :
1.      Klien biasanya mengangkat sekresi hidung secara lembut dengan membersihkan ke dalam dengan tisu lembut. Hal ini menjadi hygiene harian yang diperlukan. Perawat mencegah klien jangan mengeluarkan kotoran dengan kasar karena mengakibatkan tekanan yang dapat mencenderai gendang telinga, mukosa hidung, dan bahkan struktur mata yang sensitif. Perdarahan hidung adalah tanda kunci dari pengeluaran yang kasar, iritasi mukosa, atau kekeringan.
2.      Jika klien tidak dapat membuang sekresi nasal, perawat membantu dengan menggunakan washlap basah atau aplikator kapas bertangkai yang dilembabkan dalam air atau salin. Aplikator seharusnya jangan dimasukkan melebihi panjang ujung kapas. Sekresi nasal yang berlebihan dapat juga dibuang dengan pengisap. Pengisap nasal merupakan kontraindikasi dalam pembedahan nasal atau otak.
f.        Perawatan telinga
Yang perlu dipersiapkan :
1.      Cutton Bath
2.      Washlap
3.      Water pik
4.      Hidrogen proksida
Prosedurnya :
1.      Perawat membersihkan telinga klien merupakan bagian rutin dalam kegiatan mandi di tempat tidur. Pembersihan berakhir dengan washlap yang dilembabkan, dirotasikan ke kanal telinga dengan lembut, kerja terbaik untuk pembersihan.
2.      Ketika serumen tampak, penarikan kembali ke bawah secara lembut pada jalan masuk kanal telinga dapat menyebabkan lilin melonggar dan keluar.
3.      Perawat menginstruksi klien untuk tidak pernah menggunakan benda tajam seperti peniti dan tusuk gigi untuk mengeluarkan lilin telinga. Penggunaan benda itu dapat menyebabkan trauma pada kanal telinga dan ruptur membran timpani. Penggunaan aplikator kapas bertangkai juga harus dihindari karena akan menyebabkan lilin terjepit dalam kanal.
4.      Anak-anak dan lasia umumnya mempunyai serumen yang keras. Serumen yang berlebihan atau terjepit biasanya dapat dipindahkan hanya dengan irigasi. Prosedur pertama yaitu pemasukan tiga tetes gliserin pada waktu tidur untuk melembutkan lilin, dan tiga tetes hidrogen peroksida dua kali sehari untuk melunakkan lilin (Phipps, dkk, 1995).
5.      Kemdian pemasukan kira-kira 250 ml air hangat (37o C) ke kanal telinga luar yang akan membersihkan lilin yang telah lunak secara mekanis. Air dingin atau panas dapat menyebabkan normal atau muntah.
6.      Klien dapat duduk atau berbaring di samping telinga yang terkena menghadap ke sebelah atas. Perawat meletakkan mangkok piala ginjal di bawah telinga yang terkena untuk menangkap larutan irigasi. Water Pik atau pentolan spuit irigasi dapat digunakan mengirigasi ke dalam kanal telinga. Ujung spuit atau Water Pik seharusnya tidak mengoklusi kanal telinga untuk menghindari penggunaan tekanan terhadap membran timpani. Irigasi ringan diarahkan pada atas kanal yang melunakkan serumen dari samping kanal telinga. Setelah kanal bersih, perawat menyeka setiap pelembab dari telinga klien dan memeriksa kanal dari serumen yang masih tertinggal.
g.      Oral hygiene
Hygiene mulut
Pasien immobilisasi terlalu lemah untuk melakukan perawatan mulut, sebagai akibatnya mulut menjadi terlalu kering atau teriritasi dan menimbulkan bau tidak enak. Masalah ini dapat meningkat akibat penyakit atau medikasi yang digunakan pasien. Perawatan mulut harus dilakukan setiap hari dan bergantung terhadap keadaan mulut pasien. Gigi dan mulut merupakan bagian penting yang harus dipertahankan kebersihannya sebab melalui organ ini berbagai kuman dapat masuk.
Hygiene mulut membantu mempertahankan status kesehatan mulut, gigi, gusi, dan bibir, menggosok membersihkan gigi dari partikel – partikel makanan, plak, bakteri, memasase gusi, dan mengurangi ketidaknyamanan yang dihasilkan dari bau dan rasa yang tidak nyaman. Beberapa penyakit yang mungkin muncul akibat perawatan gigi dan mulut yang buruk adalah karies, gingivitis (radang gusi), dan sariawan. Hygiene mulut yang baik memberikan rasa sehat dan selanjutnya menstimulasi nafsu makan.
Tujuan perawatan hygiene
Mulut pasien adalah pasien akan memiliki mukosa mulut utuh yang terhidrasi baik serta untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui mulut (misalnya tifus, hepatitis), mencegah penyakit mulut dan gigi, meningkatkan daya tahan tubuh, mencapai rasa nyaman, memahami praktik hygiene mulut dan mampu melakukan sendiri perawatan hygiene mulut dengan benar.
b. Perawatan Gigi
Menggosok gigi adalah cara yang umum dianjurkan untuk membersihkan deposit lunak pada permukaan gigi dan gusi.
Alat dan bahan
1. Handuk dan kain pengalas
2. Gelas kumur berisi:
a. Air masak/NaCl
b. Obat kumur
c. Borax gliserin
3. Spatel lidah yang telah dibungkus dengan kain kasa
4. Kapas lidi
5. Bengkok
6. Kain kasa
7. Pinset atau arteri klem
8. Sikat gigi dan pasta gigi









BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
Personal Hygiene berasal dari bahasaYunani yaitu personal yang artinya perorangan dan hygiene berarti sehat. Kebersihan seseorang adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis. Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri. Macam personal hygiene adalah perawatan yang mencakup seluruh bagian tubuh. Jenis-jenisnya yaitu, perawatan pagi hari, siang hari, menjelang tidur, dan dini hari.
3.2       Saran
1. Kita harus menjaga kebersihan diri dengan berdasarkan prinsip personal hygiene
2. Kesehatan berawal dari kebersihan