Assalamualaikum Wr.wb.
Pertama-tama marilah kita bersama-sama panjatkan puji serta syukur
kehadirat Allah SWT, di mana pada hari ini kita semua masih diberi beberapa
kenikmatan yang sama sekali tidak bisa kita hitung, berapa kenikmatan yang
Allah berikan kepada kita semua.
Solawat dan salam semoga senantiasa tetap tercurahkan kepada Baginda Nabi
besar kita Muhammad Saw.
Dalam kesempatan yang baik ini perkenankan saya untuk menyampaikan pidato
dengan tema
Pendidikan Karakter Sebagai Pondasi Kesuksesan Peradaban Bangsa.
Bapak / Ibu serta hadirin yang berbahagia,
Pendidikan karakter saat ini merupakan isu utama pendidikan, selain menjadi
bagian dari proses
pembentukan akhlaq anak bangsa, pendidikan karakter mampu menjdi pondasi utama
dalam
mensukseskan Indonesia Emas 2025.
Di lingkungan pendidikan sendiri, pendidikan karakter menjadi focus
pendidikan di seluruh jenjang
pendidikan yang dibinanya. Karakter pada dasarnya dimulai dari pembentukan
fitrah yang diberikan Illahi, yang kemudian membentuk jati diri dan perilaku. Dan
dalam prosesnya sendiri fitrah Illahi itu sangat dipengaruhi oleh keadaan
lingkungan, sehingga lingkungan memiliki peranan yang cukup besar dalam
membentuk jati diri dan perilaku anak. Oleh karena itu sekolah sebagai bagian
dari lingkungan, memiliki peranan yang sangat penting dan dianjurkan agar setiap
sekolah dan seluruh lembaga pendidikan memiliki School Culture, di mana setiap
sekolah memiliki pendisiplinan dan kebiasaan mengenai karakter yang akan
dibentuk. Dan juga bagi para pemimpin dan pendidik lembaga pendidikan tersebut
juga harus mampu memberikan suri tauladan mengenai pendidikan karakter.
Karena pendidikan sangat penting dalam pembentukan akhlaq dan pembentukan
paradigma
masyarakat Indonesia, maka tidak hanya menjadi proses pencarian watak bangsa
saja melainkan sebagai corong utama titik balik kesuksesan peradaban bangsa.
Mengapa
Perlu Adanya Pendidikan Karakter?
Pendidikan karakter adalah suatu
hal yang saat ini ditekankan dalam
pendidikan di
Indonesia. Nah dalam hati saya muncul berbagai pertanyaan tentang
pendidikan karakter. Diantaranya yaitu
Mengapa perlu pendidikan karakter?
Apakah ”karakter” dapat dididikkan? Karakter apa yang perlu dididikkan?
Bagaimana mendidikkan aspek-aspek karakter secara efektif? Bagaimana mengukur
keberhasilan sebuah pendidikan karakter? Siapa yang harus melakukan pendidikan
karakter?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
kembali diperkuat oleh kebijakan yang menjadikan pendidikan karakter
sebagai ”program” pendidikan nasional di Indonesia terutama dalam Kementerian
Pendidikan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu II. ”Pendidikan karakter”
bukanlah hal baru dalam sistem pendidikan nasional Indonesia. Untuk
menjawab semua tentang pendidikan karakter mari kita bahas satu persatu.
1. Mengapa perlu
pendidikan karakter?
Ada beberapa penamaan
nomenklatur untuk merujuk kepada kajian pembentukan karakter peserta didik,
tergantung kepada aspek penekanannya. Di antaranya yang umum dikenal ialah:
Pendidikan Moral, Pendidikan Nilai, Pendidikan Relijius, Pendidikan Budi
Pekerti, dan Pendidikan Karakter itu sendiri. Masing-masing penamaan
kadang-kadang digunakan secara saling bertukaran (inter-exchanging),
misal pendidikan karakter juga merupakan pendidikan nilai atau
pendidikan relijius itu sendiri (Kirschenbaum, 2000).
Sepanjang sejarahnya, di seluruh
dunia ini, pendidikan pada hakekatnya memiliki dua tujuan, yaitu membantu
manusia untuk menjadi cerdas dan pintar (smart), dan membantu mereka menjadi
manusia yang baik (good). Menjadikan manusia cerdas dan pintar, boleh jadi
mudah melakukannya, tetapi menjadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan
bijak, tampaknya jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit. Dengan demikian,
sangat wajar apabila dikatakan bahwa problem moral merupakan persoalan akut
atau penyakit kronis yang mengiringi kehidupan manusia kapan dan di mana pun.
Kenyataan tentang akutnya
problem moral inilah yang kemudian menempatkan pentingnya penyelengaraan
pendidikan karakter. Rujukan kita sebagai orang yang beragama (Islam misalnya)
terkait dengan problem moral dan pentingnya pendidikan karakter dapat dilihat
dari kasus moral yang pernah menimpa kedua
Sebagai kajian akademik,
pendidikan karakter tentu saja perlu memuat syarat-syarat keilmiahan akademik
seperti dalam
konten (isi), pendekatan dan
metode kajian. Di sejumlah
negara maju, seperti Amerika Serikat terdapat pusat-pusat kajian pendidikan
karakter (Character Education Partnership; International Center for Character
Education). Pendidikan karakter berkembang dengan pendekatan kajian
multidisipliner:
psikologi, filsafat moral/etika, hukum, sastra/humaniora.
Sebagai aspek
kepribadian, karakter merupakan cerminan
dari kepribadian secara utuh dari seseorang: mentalitas, sikap dan perilaku.
Pendidikan karakter semacam ini lebih tepat sebagai pendidikan budi pekerti.
Pembelajaran tentang tata-krama, sopan santun, dan adat-istiadat, menjadikan
pendidikan karakter semacam ini lebih menekankan kepada perilaku-perilaku
aktual tentang bagaimana seseorang dapat disebut berkepribadian baik atau tidak
baik berdasarkan norma-norma yang bersifat kontekstual dan kultural.
Menurunnya kualitas moral dalam
kehidupan manusia Indonesia dewasa ini, terutama di kalangan siswa, menuntut
deselenggarakannya pendidikan karakter. Sekolah dituntut untuk memainkan peran
dan tanggungjawabnya untuk menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai yang baik
dan membantu para siswa membentuk dan membangun karakter mereka dengan
nilai-nilai yang baik. Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan tekanan
pada nilai-nilai tertentu –seperti rasa hormat, tanggungjawab, jujur, peduli,
dan adil– dan membantu siswa untuk memahami, memperhatikan, dan melakukan
nilai-nilai tersebut dalam kehidupan mereka sendiri.
2. Pengertian
Pendidikan Karakter
Kata character berasal
dari bahasa Yunani charassein, yang berarti to engrave (melukis, menggambar),
seperti orang yang melukis kertas, memahat batu atau metal. Berakar dari
pengertian yang seperti itu, character kemudian diartikan sebagai tanda atau
ciri yang khusus, dan karenanya melahirkan sutu pandangan bahwa karakter adalah
pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang?. Setelah
melewati tahap anak-anak, seseorang memiliki karakter, cara yang dapat
diramalkan bahwa karakter seseorang berkaitan dengan perilaku yang ada di
sekitar dirinya (Kevin Ryan, 1999: 5).
Williams & Schnaps (1999) mendefinisikan
pendidikan karakter sebagai
“any deliberate
approach by which school personnel, often in conjunction with parents
and community members, help children and youth become caring, principled
and responsible”.
Maknanya dari
pengertian pendidikan karakter
yaitu merupakan berbagai usaha yang dilakukan oleh para personil sekolah,
bahkan yang dilakukan bersama-sama dengan orang tua dan anggota
masyarakat, untuk membantu anak-anak dan remaja agar menjadi atau memiliki
sifat peduli, berpendirian, dan bertanggung jawab.
Lebih lanjut Williams (2000)
menjelaskan bahwa makna dari
pengertian pendidikan karakter
tersebut awalnya digunakan oleh
National Commission on Character Education (di
Amerika) sebagai suatu istilah payung yang meliputi berbagai pendekatan,
filosofi, dan program. Pemecahan masalah, pembuatan keputusan,
penyelesaian konflik merupakan aspek yang penting dari pengembangan
karakter moral. Oleh karena itu, di dalam
pendidikan karakter
semestinya memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengalami sifat-sifat
tersebut secara langsung.
Tujuh Alasan Perlunya Pendidikan Karakter
Menurut Lickona ada tujuh alasan
mengapa pendidikan karakter itu harus disampaikan:
- Merupakan
cara terbaik untuk menjamin anak-anak (siswa) memiliki kepribadian yang
baik dalam kehidupannya;
- Merupakan
cara untuk meningkatkan prestasi akademik;
- Sebagian
siswa tidak dapat membentuk karakter yang kuat bagi dirinya di tempat
lain;
- Mempersiapkan
siswa untuk menghormati pihak atau orang lain dan dapat hidup dalam
masyarakat yang beragam;
- Berangkat
dari akar masalah yang berkaitan dengan problem moral-sosial, seperti
ketidaksopanan, ketidakjujuran, kekerasan, pelanggaran kegiatan seksual,
dan etos kerja (belajar) yang rendah;
- Merupakan
persiapan terbaik untuk menyongsong perilaku di tempat kerja; dan
- Mengajarkan
nilai-nilai budaya merupakan bagian dari kerja peradaban.
3. Bagaimana Mendidik
Aspek Karakter?
Pendidikan bukan
sekedar berfungsi sebagai media untuk mengembangkan kemampuan semata,
melainkan juga berfungsi untuk membentuk watak dan peradaban bangsa yang
bermatabat. Dari hal ini maka sebenarnya pendidikan watak (karakter) tidak
bisa ditinggalkan dalam berfungsinya pendidikan. Oleh karena itu, sebagai
fungsi yang melekat pada keberadaan pendidikan nasional untuk membentuk
watak dan peradaban bangsa, pendidikan karakter merupakan manifestasi dari
peran tersebut. Untuk itu, pendidikan karakter menjadi tugas dari semua
pihak yang terlibat dalam usaha pendidikan (pendidik).
Secara umum
materi tentang pendidikan karakter
dijelaskan oleh Berkowitz, Battistich, dan Bier (2008: 442) yang
melaporkan bahwa materi pendidikan karakter sangat luas. Dari hasil
penelitiannya dijelaskan bahwa paling tidak ada 25 variabel yang dapat
dipakai sebagai materi pendidikan karakter. Namun, dari 25
variabel tersebut yang paling umum dilaporkan dan secara signifikan hanya
ada 10, yaitu:
- Perilaku seksual
- Pengetahuan tentang karakter
(Character knowledge)
- Pemahaman tentang moral sosial
- Ketrampilan pemecahan masalah
- Kompetensi emosional
- Hubungan dengan orang lain
(Relationships)
- Perasaan keterikan dengan
sekolah (Attachment to school)
- Prestasi akademis
- Kompetensi berkomunikasi
- Sikap kepada guru (Attitudes
toward teachers).
Otten (2000) menyatakan bahwa
pendidikan karakter yang diintegrasikan ke dalam seluruh masyarakat
sekolah sebagai suatu strategi untuk membantu mengingatkan kembali siswa
untuk berhubungan dengan konflik, menjaga siswa untuk tetap selalu siaga
dalam lingkungan pendidikan, dan menginvestasikan kembali masyarakat untuk
berpartisipasi aktif sebagai warga negara.
4. Peran Konselor dalam
Pendidikan Karakter di Sekolah
Jika pendidikan karakter
diselenggarakan di sekolah maka konselor sekolah akan menjadi pioner dan
sekaligus koordinator program tersebut. Hal itu karena konselor
sekolah yang memang secara khusus memiliki tugas untuk membantu
siswa mengembangkan kepedulian sosial dan masalah-masalah kesehatan
mental, dengan demikian konselor sekolah harus sangat akrab dengan program
pendidikan karakter.
Konselor sekolah harus mampu
melibatkan semua pemangku kepentingan (siswa, guru bidang studi, orang
tua, kepala sekolah) di dalam mensukseskan pelaksanaan programnya. Mulai
dari program pelayanan dasar yang berupa rancangan kurikulum bimbingan
yang berisi materi tentang pendidikan karakter, seperti kerja
sama, keberagaman, kejujuran, menangani kecemasan, membantu orang lain,
persahabatan, cara belajar, menejemen konflik, pencegahan penggunaan
narkotika, dan sebagainya. Program perencanaan individual berupa kemampuan
untuk membuat pilihan, pembuatan keputusan, dan seterusnya. Program
pelayanan responsif yang antara lain berupa kegiatan konseling individu,
konseling kelompok.
Nah demikianlah mengenai
pendidikan karakter, begitu
pentingnya pendidikan karakter
di negeri ini, untuk itu bagi para guru, konselor, dosen maupun orang tua
hendaknya senantiasa menanamkan karakter pada anak didiknya. Khusus bagi
konselor sekolah di Indonesia baik secara langsung maupun tidak
langsung berkewajiban menyelenggarakan program pelayanan yang bernuansa
nilai-nilai pendidikan karakter.
Kiranya hanya itu yang dapat saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga
kita dapat mengambil hikmanya dan mengamalkannya. Saya pribadi mohon maaf atas
segala kehilafan dan kekurangan.
Billahi Taufik Walhidayah. Wassalamualaikum Wr.wb.
# pidato buat orang yang bikin hati gue sakit ? OH no.. hahahaha